Pada artikel kali ini Dian akan mengupas tentang
5 pilar problema kehidupan anak negeri yang ada di Indonesa yang apabila diperbaiki dapat
berdampak luar biasa untuk Indonesia tercinta, karena penerus bangsa yang baik
adalah generasi muda yang memiliki pilar kehidupan yang baik. 5 Pilar problema
kehidupan tersebut adalah kelangsungan hidup dan perkembangan anak, pendidikan
dasar untuk anak, perlindungan anak, memerangi HIV/AIDS , dan kebersihan air.
pertama adalah kelangsungan hidup dan perkembangan ibu dan anak :
Sejak 1990, angka kematian tahunan di kalangan
ibu dan anak balita di Indonesia telah menurun setengahnya berkat perbaikan
kebijakan dan undang-undang kesehatan, pembaharuan fokus pada upaya menurunkan
malnutrisi, peningkatan cakupan pelayanan utama kesehatan ibu dan anak, serta
pengendalian penyakit-penyakit pada masa kanak-kanak.
Meskipun begitu, diperkirakan masih ada 150.000
anak yang meninggal di sini sebelum mencapai usia lima tahun, dan hampir 10.000
ibu kehilangan nyawa mereka disebabkan permasalahan dengan kehamilan dan
persalinan mereka.
Seharusnya pemerintah bekerja untuk meningkatkan
cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan dasar, dengan fokus utama pada
masyarakat yang kurang terlayani. Selain itu pemerintah harus dapat
mengidentifikasi kesenjangan yang perlu segera diatasi dalam keterampilan
teknis, menyediakan bimbingan dalam mengalokasikan sumber daya yang lebih baik,
membantu mengumpulkan dan menganalisis data-data yang penting dalam membantu
dalam membuat prioritas penanganan, dan menyediakan bantuan teknis yang dapat
meningkatkan efektivitas program kesehatan dan gizi.
Tidak hanya itu pemerintah harus dapat mendukung
pelatihan pekerja kesehatan, seperti bidan, untuk meningkatkan keterampilan
praktis dan pengetahuan utama dari praktek kebiasaan yang baik yang bisa
disebarluaskan ke masyarakat tempat mereka bekerja.
Selain itu pemerintah harus mendukung prakarsa
yang membantu keluarga dalam mengumpulkan informasi yang lebih baik dan
pemahaman yang lebih mendalam mengenai cara-cara yang dapat meningkatkan taraf
kesehatan mereka – seperti panduan dalam pemberian ASI eksklusif, gizi yang
baik untuk ibu dan anak, manfaat cuci tangan terhadap kesehatan dan pentingnya
vaksinasi lengkap untuk anak.
Dan yang paing penting pemerintah harus melakukan kampanye untuk
memastikan bahwa peraturan dan undang-undang di Indonesia sesuai dengan standar
internasional, sehingga setiap anak Indonesia bisa memanfaatkan perawatan
kesehatan dengan kualitas yang sebaik-baiknya, lepas dari di mana mereka
tinggal, atau status ekonomi mereka. Program dan kegiatan itu dapat dalam bidang kesehatan dan gizi merambah ke
bidang-bidang lain seperti air, sanitasi dan kebersihan, dan pendidikan,
maupun mengurangi risiko penyebaran HIV/AIDS di
kalangan kaum muda dan ibu hamil
Masalah yang kedua adalah Pendidikan dasar untuk anak :
Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat besar
dalam memastikan anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar mendapatkan
pendidikan – sekitar 97 persen dari anak-anak berusia 7 sampai 12 tahun di
seluruh negeri dapat bersekolah.
Namun, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia yang
seharusnya bersekolah tidak dapat menikmati pendidikan: 600.000 anak usia
sekolah dasar dan 1.9 juta anak usia sekolah menengah pertama (13-15 tahun).
Data statistik tingkat provinsi dan kabupaten
menunjukkan bahwa terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak
paling parah. Hampir setengah dari anak-anak yang berasal dari keluarga miskin
tidak mampu melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama – anak-anak yang
berasal dari rumah tangga termiskin memiliki kemungkinan putus sekolah 4 kali
lebih besar daripada mereka yang berasal dari rumah tangga berkecukupan.
Hampir 3 persen dari anak-anak usia sekolah dasar di desa tidak
bersekolah, dibandingkan dengan hanya lebih dari 1 persen di daerah
perkotaan.
Dari mereka yang belajar di bangku sekolah dasar,
hampir 1 dari 5 anak tidak dapat melanjutkan ke sekolah menengah
pertama, dibandingkan 1 dari 10 anak di daerah perkotaan.
Hampir setengah dari anak-anak yang berasal dari
keluarga miskin tidak mampu melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama
Kemungkinan putus sekolah adalah 20 kali lebih tinggi
untuk anak-anak yang ibunya tidak memiliki pendidikan daripada mereka yang
memiliki ibu dengan pendidikan tinggi. Jika ini terbukti sebagai fenomena yang
terjadi terus-menerus maka akan berdampak besar bagi pertumbuhan jangka panjang
Indonesia, jika kurangnya pendidikan berlanjut dari satu generasi ke generasi
selanjutnya.
Upaya memahami dan menanggapi ketimpangan ini menjadi
pusat dari kegiatan dan program yang dapat dibuat pemerintah dalam bidang
pendidikan, yang meliputi:
ü Memperkuat
pengumpulan data mengenai situasi anak-anak di sekolah, dan di luar sekolah,
melalui sistem informasi yang bersumber dari masyarakat.
ü Menilai
alasan-alasan mengapa banyak anak usia dini tidak berpartisipasi dalam
perkembangan awal masa kanak-kanak, yang membatasi keberhasilan mereka dalam
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan dasar dan hambatan dalam pendaftaran dan
penyelesaian pendidikan sekolah dasar.
ü Memperbaiki
keterampilan kepala sekolah, pengawas, dan aparat pendidikan untuk mengelola
dan menyampaikan pendidikan berkualitas utama yang menjangkau semua anak-anak.
ü Melibatkan
komunitas dan masyarakat sipil setempat dalam menyampaikan pelayanan pendidikan
yang berkualitas lebih baik bagi anak-anak yang terpinggirkan, seperti contoh
melalui perbaikan manajemen berbasis sekolah.
Masalah
yang ke tiga mengenai perlindungan anak :
Setiap anak Indonesia memiliki hak untuk dilindungi
dari bahaya, pelecehan, dan eksploitasi.
Pemerintah Indonesia harus membantu mengidentifikasi
risiko yang mengancam anak-anak – seperti kekerasan dan diskriminasi – dan
kelemahan-kelemahan pada bidang seperti peradilan anak dan kesejahteraan
masyarakat. Bantuan teknis diberikan untuk kementrian-kementrian utama dan
lembaga-lembaga yang menangani isu-isu perlindungan anak untuk memperkuat
kapasitas dan kebijakan – misalnya dengan mendukung Pemerintah Indonesia,
Komisi Nasional Perlindungan Anak, parlemen, serta lembaga-lembaga penegak
hukum untuk memperkuat perencanaan dan implementasi dari undang-undang
peradilan anak, dan melalui dukungan pada lembaga-lembaga sosial untuk
memperbaiki keterampilan dan pemahaman seluruh pekerja sosial di seluruh
pelosok tanah air untuk pemberian bantuan yang lebih baik bagi keluarga rentan.
Pemerintah harus bermitra dengan lembaga akademik
ternama dari dalam dan luar negeri untuk membantu meningkatkan penelitian dan
data akurat mengenai isu-isu perlindungan anak, dan menyediakan bimbingan bagi
pemerintah tentang bagaimana memaksimalkan dampak penggunaan sumber daya
finansial dalam menciptakan struktur dan pelayanan perlindungan anak yang
efektif dan menjangkau keluarga yang paling rentan - di mana tingkat
ancaman terhadap keamanan dan kesejahteraan anak sering menjadi yang tertinggi.
Peningkatan kesadaran masyarakat serta pemahaman
mengenai isu-isu berkelanjutan seperti kekerasan dalam sekolah
dilaksanakan melalui dukungan terhadap prakarsa perubahan perilaku, dengan
menyatukan berbagai pihak masyarakat untuk mengambil tindakan melawan
pelecehan-pelecehan tersebut.
Anak-anak sering menghadapi risiko besar dalam keadaan
darurat – dan melihat kerentanan Indonesia terhadap bencana alam yang tinggi,
Pemerintah harus turut bekerja sama dengan lembaga atau instansi tanggap dan
siaga bencana / kedaruratan untuk memastikan bahwa isu-isu perlindungan cukup
mendapat perhatian di dalam kebijakan dan rencana mereka.
Masalah
yang ke empat mengenai memerangi HIV / AIDS :
Sementara data-data resmi mengindikasikan bahwa
tingkat prevalensi HIV di Indonesia adalah 0,2 persen, Papua dan Papua Barat
melaporkan bahwa prevalensi di kalangan orang dewasa di sana adalah 2,4 persen,
dan kalangan muda di propinsi ini (usia 15-24 tahun) terkena dampak secara
tidak proporsional, dengan angka prevalensi 3.0 persen.
Risiko tertinggi penularan HIV diketahui berasal dari
perilaku — termasuk penggunaan jarum suntik (penasun) dan seks yang tidak
terlindungi — dan dari ibu yang terjangkit ke anak mereka dan selama
persalinan.
Jumlah perempuan yang terinfeksi saat ini cenderung
meningkat HIV di Indonesia, membuat kemungkinan penularan seperti itu bahkan
semakin besar.
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Kementerian
Kesehatan, dinas pendidikan dan kesehatan di daerah, serta masyarakat dan
jaringan-jaringan pemuda harus terus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
tentang risiko HIV dan bagaimana warga dapat melindungi diri sendiri.
Program dan kegiatan pemerintah termasuk menyediakan
informasi yang akurat bagi guru dan siswa, mengaitkan pendidikan HIV dengan
kegiatan-kegiatan remaja lainnya seperti Olah Raga, dan mendukung aktivis
pemuda untuk melakukan pendidikan sebaya di dalam komunitasnya. Pemerintah
harus mendukung upaya-upaya untuk
mengurangi stigma yang terkait dengan mereka yang hidup dengan virus HIV, untuk
memastikan bahwa mereka yang terkena imbas — mereka yang dengan virus dan
keluarga — tidak dikenai tindakan diskriminasi. Program dan kegiatan ini
dikaitkan secara erat dengan dukungan pendidikan keterampilan hidup di kalangan
pemuda/ remaja, yang mendorong toleransi dan pamahaman.
Masalah
yang ke lima tentang kebersihan air :
Pemerintah harus berfikir tentang penanganan kualitas
air yang tidak memadai, cakupan sanitasi yang rendah dan kebersihan yang
kurang. Bidang itu menjadi tantangan-tantangan karena memiliki dampak pada
kesehatan, gizi, pencapaian pendidikan anak dan keluarga.
Serta mendukung prakarsa yang memungkinkan masyarakat
untuk memainkan peran penting dalam mengembangkan dan mengelola ‘sanitasi total
berbasis masyarakat’ yakni ketika lima pilar utama sanitasi ditangani dan
dicermati secara memadai: penghentian buang air besar secara sembarangan,
promosi cuci tangan pakai sabun, peningkatan pengolahan air rumah tangga,
pengelolaan sampah padat dan pengelolaan limbah cair dan saluran pembuangan
secara tepat.
Pemerintah daerah dan komunitas setempat harus bisa
untuk mengembangkan model praktek terbaik untuk program sanitasi masyarakat,
berbagi keahlian dan mengembangkan kapasitas untuk melaksanakan lima pilar dan
kemudian membantu masyarakat untuk mendapatkan dan memanfaatkan pengalaman
mereka dan menyebarluaskan pengalaman tersebut dengan masyarakat lainnya.
Mengetahui bahwa anak dapat berperan sangat efektif
dalam mengubah perilaku masyarakat mereka yang lebih luas, pemerintah harus mendukung
prakarsa kebersihan dan sanitasi berbasis sekolah melalui pemberian panduan
tentang bagaimana meningkatkan fasilitas dan sarana sanitasi di sekolah, dan
mengembangkan serta melaksanakan promosi kebersihan yang efektif di
kelas-kelas. Ini tidak hanya membantu mempromosikan kebersihan yang baik dan
arti penting sanitasi yang tepat di suatu komunitas, namun juga meningkatkan
lingkungan fisik pembelajaran sehingga anak didorong untuk bersekolah dan
berprestasi lebih baik di sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar