Secara legal formal bangsa ini
memang sudah merdeka selama 69 tahun, namun jika kita melihat realita yang
terjadi, maka sejatinya negara ini belum sepenuhnya merdeka. Penjajahan yang
kita alami saat ini memang tidaklah sama seperti yang dialami para pendahulu
kita. Lihatlah berapa juta rakyat Indonesia yang terbelenggu dalam kemiskinan,
mereka yang tidak mampu sekolah, pengangguran yang menumpuk, petani yang
dirampas tanahnya, buruh dengan gaji rendah, belum lagi kanker korupsi yang masih
menjamur di tubuh birokrasi negeri ini.
Hal inilah yang secara konkret
harus kita selesaikan bersama. Di tengah karut marutnya permasalahan yang
terjadi pada bangsa ini, kita tidak boleh pesimistis dalam berusaha untuk
membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan. Bangsa ini membutuhkan orang-orang
berjiwa besar yang dengan segenap kemampuannya berusaha dengan ikhlas untuk
menciptakan masyarakat Indonesia yang merdeka secara utuh.
Di sinilah kita terus berkaca bahwa peran
generasi muda tidak akan pernah terputus dari sejarah bangsa ini. Kita sebagai
generasi muda harus menyadari bahwa bangsa Indonesia ini membutuhkan
pahlawan-pahlawan baru untuk mewujudkan kehidupan rakyat yang demokratis secara
politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, dan merdeka dengan
sebenar-benarnya. Kita harus sadar bahwa kita mampu menjadi pahlawan bagi
bangsa ini. Bung karno pernah dengan lantang berseru bahwa “Bangsa yang
besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya sendiri. Bangsa yang besar
adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya.”
Untuk mengenang para pahlawan
aku akan memberikan biografi pahlawan yang aku kagumi yaitu Cut Nyak Dhien dan
Jendral Sudirman yang telah aku tulis dalam sebuah paragraf eksposisi :
Cut Nyak Dhien
Nangroe Aceh Darussalam
merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak
kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dhien merupakan salah
satu pahlawan nasional, sang wanita baja
dari tanah serambi Mekkah, tokoh pejuang kemerdekaan yang berkiprah sebelum
masa kebangkitan nasional. Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang Provinsi Aceh
tahun 1850. Cut Nyak Dhien menikah pada usia 12 tahun dengan Teuku Cik Ibrahim
Lamnga. Namun pada suatu pertempuran di Gletarum,Juni 1878, sang suami Teuku
Ibrahim gugur. Kemudian Cut Nyak Dhien bersumpah hanya akan Menerima pinangan
dari laki-laki yang bersedia membantu Untuk menuntut balas kematian Teuku
Ibrahim.
Cut Nyak Dhien akhirnya menikah
kembali dengan Teuku Umar tahun 1880 juga seorang pejuang Aceh yang sangat
disegani Belanda. Sejak menikah dengan Teuku Umar, tekad perjuangan Cut Nyak
Dhien makin besar. Ia berjuang bersama suaminya sejak tahun 1893 hingga Maret
1896. Dalam perjuangannya Teuku Umar berpura-pura bekerjasama dengan Belanda
sebagai taktik untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang lainnya.
Tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar gugur dalam pertempuran sengit di Meulaboh,
namun Cut Nyak Dhien teus melawan Belanda dengan cara bergerilya.
Perjuangannya yang berat dengan
bergerilya keluar masuk hutan membuat kondisi pasukan dan kesehatannya
mengkhawatirkan. Cut Nyak Dien menderita sakit encok dan matanya menjadi
rabun, sehingga satu pasukannya yang
bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba. Ia akhirnya ditangkap
dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh.
Namun, keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Ia juga masih
berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Akibatnya, Dhien dibuang
ke Sumedang. Cut Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan
dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.
Jendral Sudirman
Panglima Besar Jenderal
Sudirman merupakan salah satu tokoh penting yang pernah dimiliki negeri ini.
Dia pejuang dan pemimpin teladan bangsa. Pribadinya teguh pada prinsip, keyakinan
dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan
pribadinya. Sudirman dilahirkan dari keluarga petani kecil, di desa
Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada
tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor
tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Sejak bayi Sudirman diangkat anak
oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo. Sebelum memasuki
dunia kemiliteran, Sudirman berlatar belakang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap
dan aktif kepanduan Hizbul Wathan.
Jenderal yang mempunyai jiwa
sosial yang tinggi, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas.
Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya
lewat pelantikan Presiden. Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan
alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng.
Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Pada
tanggal 12 Desember 1945, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan
Inggris. Pertempuran yang terjadi selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan
Inggris mengundurkan diri ke Semarang. Jenderal Sudirman saat itu berada di
Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya
tingggal satu yang berfungsi.
Pada tanggal 29 Januari
1950, Jenderal Sudirman meninggal dunia
di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Rakyat
Indonesia berduka cita setelah kematian Sudirman, bendera dikibarkan setengah
tiang di seluruh Nusantara dan ribuan orang mengikuti pemakamannya. Sampai
sekarang Sudirman sangat disegani di Indonesia. Perang gerilyanya dianggap
sebagai asal usul semangat Tentara Nasional Indonesia . Lalu ia dinobatkan
sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar
sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya
dimiliki oleh tiga jenderal di RI sampai sekarang, Haji Muhammad Soeharto, Abdul
Haris Nasution dan dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar