Rabu, 29 Oktober 2014

Pahlawan Kemerdekaan



Secara legal formal bangsa ini memang sudah merdeka selama 69 tahun, namun jika kita melihat realita yang terjadi, maka sejatinya negara ini belum sepenuhnya merdeka. Penjajahan yang kita alami saat ini memang tidaklah sama seperti yang dialami para pendahulu kita. Lihatlah berapa juta rakyat Indonesia yang terbelenggu dalam kemiskinan, mereka yang tidak mampu sekolah, pengangguran yang menumpuk, petani yang dirampas tanahnya, buruh dengan gaji rendah, belum lagi kanker korupsi yang masih menjamur di tubuh birokrasi negeri ini.

Hal inilah yang secara konkret harus kita selesaikan bersama. Di tengah karut marutnya permasalahan yang terjadi pada bangsa ini, kita tidak boleh pesimistis dalam berusaha untuk membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan. Bangsa ini membutuhkan orang-orang berjiwa besar yang dengan segenap kemampuannya berusaha dengan ikhlas untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang merdeka secara utuh.

 Di sinilah kita terus berkaca bahwa peran generasi muda tidak akan pernah terputus dari sejarah bangsa ini. Kita sebagai generasi muda harus menyadari bahwa bangsa Indonesia ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru untuk mewujudkan kehidupan rakyat yang demokratis secara politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, dan merdeka dengan sebenar-benarnya. Kita harus sadar bahwa kita mampu menjadi pahlawan bagi bangsa ini. Bung karno pernah dengan lantang berseru bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya sendiri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya.” 

Untuk mengenang para pahlawan aku akan memberikan biografi pahlawan yang aku kagumi yaitu Cut Nyak Dhien dan Jendral Sudirman yang telah aku tulis dalam sebuah paragraf eksposisi :


Cut Nyak Dhien
Hasil gambar untuk cut nyak dien
Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dhien merupakan salah satu  pahlawan nasional, sang wanita baja dari tanah serambi Mekkah, tokoh pejuang kemerdekaan yang berkiprah sebelum masa kebangkitan nasional. Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang Provinsi Aceh tahun 1850. Cut Nyak Dhien menikah pada usia 12 tahun dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga. Namun pada suatu pertempuran di Gletarum,Juni 1878, sang suami Teuku Ibrahim gugur. Kemudian Cut Nyak Dhien bersumpah hanya akan Menerima pinangan dari laki-laki yang bersedia membantu Untuk menuntut balas kematian Teuku Ibrahim.
Cut Nyak Dhien akhirnya menikah kembali dengan Teuku Umar tahun 1880 juga seorang pejuang Aceh yang sangat disegani Belanda. Sejak menikah dengan Teuku Umar, tekad perjuangan Cut Nyak Dhien makin besar. Ia berjuang bersama suaminya sejak tahun 1893 hingga Maret 1896. Dalam perjuangannya Teuku Umar berpura-pura bekerjasama dengan Belanda sebagai taktik untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang lainnya. Tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar gugur dalam pertempuran sengit di Meulaboh, namun Cut Nyak Dhien teus melawan Belanda dengan cara bergerilya.
Perjuangannya yang berat dengan bergerilya keluar masuk hutan membuat kondisi pasukan dan kesehatannya mengkhawatirkan. Cut Nyak Dien menderita sakit encok dan matanya menjadi rabun,  sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba. Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Namun, keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Ia juga masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Akibatnya, Dhien dibuang ke Sumedang. Cut Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.

Jendral Sudirman
Foto hitam putih seorang pria memakai setelan dan peci menatap ke depan
Panglima Besar Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh penting yang pernah dimiliki negeri ini. Dia pejuang dan pemimpin teladan bangsa. Pribadinya teguh pada prinsip, keyakinan dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Sudirman dilahirkan dari keluarga petani kecil, di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor  tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Sejak bayi Sudirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo. Sebelum memasuki dunia kemiliteran, Sudirman berlatar belakang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan aktif kepanduan Hizbul Wathan.
Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Pada tanggal 12 Desember 1945, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang terjadi selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang. Jenderal Sudirman saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.
Pada tanggal 29 Januari 1950,  Jenderal Sudirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Rakyat Indonesia berduka cita setelah kematian Sudirman, bendera dikibarkan setengah tiang di seluruh Nusantara dan ribuan orang mengikuti pemakamannya. Sampai sekarang Sudirman sangat disegani di Indonesia. Perang gerilyanya dianggap sebagai asal usul semangat Tentara Nasional Indonesia . Lalu ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh tiga jenderal di RI sampai sekarang, Haji Muhammad Soeharto, Abdul Haris Nasution dan dirinya sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar